Sebuah Renungan: ‘Maghrib Mengaji’ Nasib Mu Kini

bintang.media – Dengan adanya wacana program Maghrib mengaji yang digelontorkan Pemerintah Daerah, beberapa waktu lalu, sudah seharusnya mendapat apresiasi dan ancungan jempol, sebab ini menunjukan bahwa Pemerintah amat peduli terhadap perkembangan ke-agama-an generasi agamis di masa mendatang. Namun, kemanakah ‘Gaungnya’ kini.

Program ini, seharusnya penting untuk kembali dibahas, tentunya terlebih dahulu harus melalui perencanaan dan kajian, serta tolak ukur keberhasilan yang lebih jelas dan tegas. Sehingga apa yang diprogramkan tidaklah menjadi sia-sia.

Perencanaan disini, menurut hemat saya adalah suatu rencana apa yang akan dilakukan, baik itu rencana dari sudut perangkatnya, sumber daya manusianya, atau bahkan dari sudut motivasi semua element, guna mendukung suatu perencanaan program.

Sedangkan yang dimaksud dengan tolak ukur keberhasilan adalah target atau hasil yang diharapkan dari semua program yang dijalankan.

Pertanyaannya, sudah disiapkankah semuanya ini? jikapun telah siap lalu bagaimana nanti cara mengukur keberhasilannya? dan satu lagi pertanyaan mendasar yang perlu dijawab. Bagaimanakah format atau bentuk program maghrib mengaji tersebut? Mengaji dimasjid atau di musollahkah? disekolah atau dirumahkah?atau ada tempat lainnya? Kemudian siapakah yang bertanggung jawab atas pengajarannya? Guru ngaji atau ustadz/ustadzah?guru agama atau bahkan mungkin langsung oleh orang tuanya? serta perangkat apa yang digunakan sebagai indikator keberhasilannya?

Untuk bisa menjawabnya, meskipun pertanyaan tersebut biasa saja, tentu saja tidaklah segampang kita membalikan telapak tangan. Sebab ini menyangkut pertanggung jawaban baik secara matrial maupun moral.

Disini perlu dukungan dan motivasi kuat dari semua element terutama orang tua dan lembaga- pendidikan yang ada terkhusus bagi lembaga pendidikan yang menaunginya. Apakah itu Dinas Pendidikan atau Kementerian Agama?
Antara Dinas Pendidikan dan Kemenag haruslah bersinergi dalam menjalankan program ini, tentu saja dengan format dan perangkat yang relevan.

Menurut hemat saya, peran kedua lembaga inilah yang lebih efektif dan efisien karena sudah dipastikan akan lebih terukur dan dapat dipertanggung jawabkan.

Dinas pendidikan, memiliki sekolah-sekolah umum mulai dari TK, SD, SLTP, dan SLTA. dengan jumlah murid atau siswa/siswi yang tidak sedikit. Sedangkan Kemenag memiliki sekolah-sekolah mulai dari RA/BA, MI, MTs, dan MA, bahkan pondok-pondok pesantren, yang juga memiliki santri/murid/siswa/i yang tidak sedikit.

Disamping itu, Kemenag juga memiliki sekolah-sekolah formal, Informal, dan non formal lainnya seperti Madrasah Diniyah Awaliah (MDA) setingkat SD/MI, Madrasah Diniyah Wustho (MDW) setingkat SLTP/MTs, dan Madrasah Diniyah Ulya (MDU) setingkat SLTA/MA. yang penyelenggaraannya dilakukan disekolah-sekolah sebagaimana sekolah formal pada umumnya. Santrinyapun adalah santri murni.

Sedangkan yang informal dan non formal adalah mulai dari TPA/TPQ, sampai dengan Madrasah Diniyah Takmiliyah (mata pelajaran agama tambahan yang diberikan pada sekolah-sekolah umum), sesuai jenjangnya (Awaliyah, Wustho, dan Ulya), yang diselenggarakan baik dimasjid, musollah/langgar, ataupun dirumah-rumah pribadi, bahkan dapat dilakukan disekolah-sekolah umum mulai dari SD sampai ke SLTA. Waktu belajarnya disesuaikan dengan kebutuhan, baik siang, sore, ataupun malam. Kurikulumnyapun ada, dan jelas dengan mata pelajaran Al-qur’an Hadist, Aqidah Akhlaq, Ushul Fiqh, Tarekh Islam, dan Bahasa Arab.

Tolak ukur atau indikator keberhasilannyapun, dapat dipertanggungjawabkan melalui ujian dengan bukti raport dan ijazah seperti sekolah pada umumnya.

Jika saja, antara Diknas dengan Kemenag dapat disinergikan melalui program Madrasah Diniyah ke sekolah-sekolah umum, dengan melibatkan guru-guru agama setempat dan para tenaga Penyuluh Agama Honorer, maka tidak tertutup kemungkinan dimasa mendatang akan tercipta kota santri, kota yang generasinya gemar mengaji dan religius.

Praktek menggabungkan antara sekolah umum dengan Madrasah Diniyah ini, telah ada lama seperti dipulau Jawa dan di daerah lainnya. Satu hal penting lainnya adalah bahwa program ini dapat digunakan sebagai acuan untuk program 5 (Lima) hari belajar atau Full Day.

(Bastary).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Disinyalir Gaji Sekitar 10 Bulan Belum Dibayar, Karyawan Perusahaan Perkebunan Gelar Orasi

bint4ng.medi4 – Sejumlah karyawan pada salah satu Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit didalam ...